HARI-HARI MENJELANG JATUHNYA PRESIDEN SOEHARTO (PART1)
https://kasrakasdotcom.blogspot.com/2015/05/hari-hari-menjelang-jatuhnya-presiden.html
BERAWAL DARI INTRIK DI KAMAR BELAKANG
ISTANA
Peristiwa-peristiwa dramatis menjelang jatuhnya Presiden
Soeharto menjadi perhatian utama media asing dalam beberapa hari terakhir.
Laporan pers asing menyebutkan betapa dramatis jatuhnya orang kuat yang
kekuasaannya begitu mencekam selama 32 tahun.
Harian The Washington Post menurunkan
kembali sebuah tulisan panjang berjudul "
SEVEN DAYS IN MAY THAT TOPPLED A TITAN" oleh Keith B. Richburg, wartawan harian terkemuka AS yang bertugas
di Jakarta selama ini.
Awalnya adalah pertemuan pribadi tokoh intelektual
muslim Nurcholish Majid dengan Pak Harto pada Senin 18 Mei pukul 21.00.
Beberapa hari sebelum Pak Harto memutuskan mengundurkan diri. Cak Nur merasa
waswas. Dia baru menerima telepon penting yang menyebutkan bahwa Pak Harto
ingin bertemu dengannya. Undangan pertemuan pribadi dengan Presiden Soeharto
itu disampaikan lewat telepon sekitar pukul 19.00 Senin itu. dan pertemuan
mendadak ini berlangsung dua jam kemudian. Cak Nur mengaku memang agak gugup
waktu itu. Sebagai intelektual muslim terkemuka, pandangan dan pemikiran Cak
Nur memang sering menjadi rujukan. Cak Nur juga sering secara terbuka meminta
Pak Harto untuk melembagakan Proses Demokratisasi dan mengumumkan pengunduran
dirinya setelah memerintah selama 32 tahun.
Namun Cak Nur agak terkejut ketika
menerima telepon itu. Semula Cak Nur mengira Pak Harto akan bersikeras
mempertahankan dirinya sebagai Presiden. Namun saat pertemuan, dia melihat Pak
Harto tampak santai seolah beban berat telah terlepas. "Saya Kapok jadi Presiden"
kata Cak Nur menirukan Pak Harto " Bapak sebainya mundur" jawab Cak
Nur. Saya tidak membantah soal itu, saya sudah mantap. Tetapi, apa jaminan
kerusuhan ini akan berhenti?" Keesokan harinya, Selasa 19 Mei, Pak Harto
mengumumkan suatu rancangan langkah kompromi yang di harapkan bias meredam aksi
demonstrasi dan kerusuhan.
Pak Harto akan membentuk dewan reformasi,
mengadakan pemilu secepat mungkin dan mengundurkan diri secepatnya setelah DPR
memilih presiden dan wakil presiden Namun, langkah kompromi ini terlambat, Dua
hari kemudian , Kamis 21 Mei, Pak Harto terpaksa harus mengadakan jumpa pers di
Istana Merdeka untuk mengumumkan pengunduran dirinya Dan seluruh dunia pun
terkejut. Richburg menulis, cepatnya Pak Harto mengambil keputusan mundur memang
mengejutkan banyak orang, termasuk mereka yang sejak dulu memintanya untuk
mundur. Pada akhirnya, Indonesia bisa membuktikan kepada dunia bahwa mampu
melakukan peralihan kepresidenan tanpa terjadi tindak kekerasan seperti yang
terjadi pada tahun 1965. Soalnya, banyak yang khawatir hal itu akan terulang.
Namun itu semua baru sebagian kisah. Menurut Richburg, dibelakang layar,
peralihan kekuasaan sebenarnya berlangsung lebih panas lagi.
"Suksesi" itu didalangi oleh sejumlah toko penting di sekitar Pak
Harto. mereka ikut dalam proses itu selama tujuh hari terakhir, setelah jelas
bahwa presiden akan dipaksa untuk mengundurkan diri, "ini adalah sebuah
kisah intrik di kamar belakang istana (back-room palace intrigue) cerita soal
manuver-manuver, penghianatan, kesepakatan, dan tipu muslihat", tulis
Richburg. Dan, semua kisah ini bisa dirinci dalam tempo tujuh hari di mulai
jum'at 15 mei. Hari itu, dini hari, pewasat Pak Harto Garuda Indonesia MD-11 ER
mendarat di Halim Perdana Kusuma setelah melakukan penerbangan 10 jam dari
Kairo. Kembalinya Pak Harto dari Kairo disambut kerusuhan di semua penjuru
Jakarta. Ratusan gedung dan pusat perbelanjaan dibakar. Jakarta membara. Warga
negara asing dan keturunan Cina terpaksa harus melarkan diri atau menginap di
Hotel di tengah kota. Tuntutan mundurnya Pak Harto makin kuat. Reaksi pertama
dari Pak Harto soal tuntutan mundur ini muncul dari Menteri Penerangan Alwi Dahlan yang mengatakan bahwa Pak
Harto akan mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang melakukan tidak
kriminal. Ketika itu muncul ancaman bahwa Pak Harto akan menggunakan
undang-undang darurat atau emergency power untuk menjalankan pemerintahan Pak
Harto tampaknya masih terus yakin dengan dukungan dari ABRi. namun muncul
tanda-tanda bahwa pemimpin ABRI mulai berubah sikap dengan mendukung reformasi.
Awal Mei Pangab Jendral TNI Wiranto
mengumumkan bahwa dia membentuk sebuah komisi militer khusus yang di pimpin
Letjen TNI Bambang Yudhoyono untuk mempelajari isu reformasi politik dengan
mengundang para pakar reformasi untuk membahas rancangan tersebut. Hal ini
bertujuan membenahi sistem politik Indonesia yang tertutup ini. Komisi yang
dipimpin Bambang Yudhoyono ini sudah melakukan serangkaian pertemuan dengan
akademisi, pakar, dan tokoh lain yang juga telah mengajukan usul mengenai
reformasi. Indria mengusulkan agar pemilu tidak dilangsungkan sesuai rencana,
yakni tahun 2002. Dia menyarankan agar proses pemilu dilakukan sebelum itu,
dengan menghilangkan jatah kursi di DPR dan membiarkan partai-partai politik
menyelenggarakan kampanye dan berorganisasi secara bebas. menurut Indria. yang
diusulkannya ini dudukung Yudhoyono Selain Indri, Cak Nur adalah yang meminta
mengajukan ususl yang menyangkut reformasi. Cak Nur mengusulan agar pemilu
dilangsungkan tahu 2000, parpol harus diizinkan untuk beroperasi dengan bebas
dan Pak Harto harus mengatakan dengan jelas bahwa dia akan mundur segera
setelah reformasi berjalan. Selain itu Cak Nur mengusulkan agar Pak Harto dan
keluarga harus menyerahkan semua harta kekayaan pribadi kepada negara. Dengan
agak terkejut, Cak Nur mengatakan bahwa semua usulannya ini bisa diterima oleh
para tokoh ABRI. Namun, mereka memintanya untuk memperhalus bahasanya, terutama
soal pengambilan harta kekayaan Pak Harto dan menghilangkan jadwal waktu pemilu.
Pada Sabtu, setelah Pak Harto kembali dari Kairo, Menlu Ali Alatas mengeluarkan
pernyataan yang membantah bahwa Pak Harto mundur. menurut Alatas, Pak Harto
akan bersedia mundur asalkan dilakukan secara konstitusional melalui sidang
DPR/MPR, Harmoko sebagai ketua DPR/MPR selama ini memang dengan setia
mendampingi Soeharto, Namun, pada Sabtu 16 Mei itu, Harmoko juga merasa
kegerahan oleh perkembangan situasi. Golkan sudah di guncang dengan hilangnya
dukungan dari kelompok-kelompok seperti Kosgoro, yang meminta Pak Harto untuk
mundur. Jadi, ketika diminta untuk memberikan komentarnya soal pernyataan Pak
Harto di Kairo, Harmoko mengatakan bahwa dia akan bertemu dengan Pak harto hari
itu untuk membicarakan masalah tersebut. hari itu juga Harmoko mengadakan pertemuan
dengan Pak harto, didampingi para wakil ketua DPR. antara lain Syarwan Hamin
dari Fraksi ABRI di Kediaman jalan Cendana. Menurut Indria Samego, Para
pimpinan DPR itu menemui Pak Harto untuk memberitahukan bahwa Pak Harto telah
kehilangan dukungan dan harus mengundurkan diri. Namun cara penyampaian
permintaan mundur ini dilakukan dengan cara yang halus dengan memperhatikan
unggah-unggah orang jawa tidak to de point. Mereka berusaha mengutarakan maksud
itu dengan cara yang sopan. namun mereka belum cukup berani untuk mengutarakan
maksud itu kata Indria. Harmoko keluar dari pertemuan tersebut dan hanya
mengatakan kepada wartawan bahwa Pak Harto telah bersedia melakukan reformasi
dan akan menyusun kembali (reshuffel) kabinet. (Bersambung).......
dikutip
dari Koran JawaPos
